News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Injury Time PPKM dan Meme

Injury Time PPKM dan Meme

 



Oleh : Nyanyang D Rahmat

SEBAGAIMANA Yang kita ketahui bahwa PPKM Darurat atau Siaga 4-3 yang semula di rencakan oleh pemerintah dari mulai tanggal 3 Juli-20 Juli diperpanjang sampai tanggal 26 Juli besok, ini di ibaratkan oleh sebagian pihak terlebih Netizen ada yang menganggap “habis gelap terbitlah terang”. Hal ini jelas menandakan betapa senang dan suka rianya masyarakat.

Mungkin bisa saya umpamakan hal itu seperti kita baru berada di penghujung Puasa Ramadhan yang sebentar lagi kita bisa bebas makan, minum dll. Tetapi hal ini juga masih dalam kemungkinan bisa di perpanjang lagi PPKM Siaga ini yang terpenting semuanya terkendali dan serius akan hal ini terutama terhadap para pengusaha, pedagang dan sebagainya.

Bahkan ada salah satu komentar dari salah satu halaman facebook yang memberikan pemikirannya (“Jika PPKM diperpanjang dan hasilnya sama saja, maka akan dilanjutkan dengan adu penalti...” “Pakar Sarankan PPKM Darurat Diperpanjang sampai Indonesia jadi juara AFF CUP”).

Di antara ungkapan kesuntukan itu, di banyak platform media sosial beredar meme, karikatur, foto, dan video-video lucu, tak sedikit pula yang menyerempet “saru”.

Ada juga video-video atau produk youtube yang secara verbal menyampaikan perlawanan, kritik keras, dan argumentasi terhadap para pengambil kebijakan PPKM. Media massa pun menyuarakan perasaan publik lewat pernyataan akademisi, politisi, dan wawancara langsung dengan man on the street.

Produk pengungkapan kegetiran itu menyajikan aksen “kreativitas tentang ketidakberdayaan”, seperti dalam meme tentang adu penalti dan batas waktu Indonesia juara AFF CUP. Di balik kegetiran termuat kecerdasan kontekstual.

Bukankah belum lama berselang kita terhibur oleh dua turnamen sepak bola, Copa America 2021 dan Euro 2020? Sejumlah pertandingan dua kejuaraan tersebut diwarnai dengan perpanjangan waktu, lalu setelah hasilnya juga buntu, diselesaikan lewat drama adu penalti.

Mengaitkan PPKM dengan menyinyiri Timnas Indonesia juga menandai kecerdasan dan intelektualitas satire.

Apakah pembuat meme, atau justru sebaliknya, meledek menantikan sesuatu yang mungkin bakal lama terwujud? Realitasnya, sejak di mulainya AFF CUP (kejuaraan sepakbola antar neraga asia tenggara) dimulai sampai terakhir, Indonesia belum pernahmengangkat Tropi AFF CUP.

*Artikulasi Rasa*

Dalam buku Sepotong Mimpi dari Rusia menulis, pembuat meme tentu tidak banyak menimbang perasaan ketika mengotak-atik aneka kemungkinan membuat sindiran atau cercaan. Seperti yang dijelaskan dalam Wikipedia, meme (yang biasa dibaca “mim”) dalah neologi yang dikenal sebagai karakter dari budaya, yang termasuk di dalamnya gagasan, perasaan, ataupun perilaku (tindakan).

Artikulasi gagasan dan rasa, itulah substansi meme untuk mengungkapkan kekecewaan, kekesalan, kemarahan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Ia menghadirkan narasi simbolik yang mendiksikan gambar sebagai “bahasa kritis”. Lebih mengungkapkan eksplorasi kreativitas merangkai kritik, mengutamakan kemasan, yang apabila diahasakan secara lisan mungkin mudah membuat pihak yang disasar tersinggung.

Saya tulis pula dalam judul “Meme Messi, yang Lucu dan yang Haru” itu, verbalitas penggunaan simbol gambar untuk tujuan tertentu -- meskipun itu adalah humor -- bagaimanapun terikat oleh etika komunikasi. Pada sisi lain, dalam budaya demokrasi, respons terhadap kritik melalui meme akan menunjukkan seberapa siap kedewasaan seseorang, apalagi bagi tokoh-tokoh publik. Sebagai risiko budaya demokrasi, meme akan mengintai sebagai bagian dari budaya kritik (Amir Machmud NS, 2018).

Menurut Abdurrahman Wahid (alm), melawan melalui lelucon merupakan kesadaran, betapa humor punya kemampuan dahsyat pencerah di tengah kebekuan kekuasaan dan segala pilar penyangganya.

Dengan humor orang bisa melintasi sekat-sekat ketakutan yang lazim melekat pada kekuasaan.

Lelucon dan bentuk-bentuk humor lain, kata Gus Dur, memang tidak dapat mengubah keadaan atas “tenaga sendiri”.

Ini sudah wajar, karena apalah kekuatan percikan perasaan manusia dihadapan kenyataan yang mencekam kehidupan bangsa secara keseluruhan. Sedangkan ideologi yang besar-besar pun tidak mampu melakukan hal itu sendirian, masih harus ditunjang oleh berbagai hal seperti agama, buruknya keadaan ekonomi, sentimen-sentimen primordial, dan seterusnya.

Dalam kumpulan kolom Melawan melalui Lelucon (2000), Gus Dur menegaskan, lelucon yang kreatif, tetapi kritis, merupakan bagian yang tidak boleh tidak harus diberi tempat dalam tradisi perlawanan kultural suatu bangsa, kalau tidak ingin kehilangan kehidupan waras dan sikap berimbang dalam menghadapi kenyataan pahit dalam lingkup sangat luas.

Di era kepahitan dalam jangka panjang tidak mustahil akan ditundukkan oleh kesegaran humor.

Lewat konteks PPKM Darurat, Anda bisa menyimak kreativitas seperti dua contoh di bawah ini.

Bukankah ini adalah artikulasi lucu-lucuan dalam kegetiran? Bukankah ini justru adalah aksen kewarasan kita?

Sebagai bagian dari budaya demokrasi, teknik komunikasi lucu-lucuan yang kreatif pada masa PPKM Darurat ini adalah ungkapan “kedaulatan perasaan manusia”.

Maka para pemimpin patut mengasah kepekaan, betapa rakyat sedang mengarungi dan mencoba mengurangi kegetiran kadaan dengan berlucu-lucu.

Wallohu a'lam bisy-syowab. (*)


Penulis adalah alumni Fak Syariah IAILM Pontren Suryalaya- Tasikmalaya

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
Newer Post
Previous
This is the last post.

Post a Comment