News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

KONFERWIL NU JABAR DAN KERUMITAN KERUMITANNYA.

KONFERWIL NU JABAR DAN KERUMITAN KERUMITANNYA.

 


Oleh. : Adlan Daie

Analis politik /Wakil.Sekretaris PWNU Jawa Barat.


Membaca Konferwil NU Jawa Barat (Jabar) yang akan dilaksanakan pada tanggal 30-31 Oktober 2021 terutama dalam konteks  kontestasi pemilihan Rois Syuriah dan Ketua.Tanfidhiyah PWNU Jabar untuk masa khidmat lima tahun ke depan tidaklah sederhana bahkan cenderung rumit dan "gaduh" dibanding "mekanisme seleksi" ormas ormas Islam lain di Indonesia.


Burhanudin Mhtadi,, putera seorang tokoh NU di Rembang,  Direktur lembaga survey "Indikator politik" membaca "lenturnya" NU berbasis tradisi elastisitas "ushul fiqh"  adalah "Kekecualian" yang rumit dan sulit diringkas dalam satu definisi sebagaimana dalam tulisannya  berjudul  "Kekecualian NU" di majalah Tempo (2004). Kerumitannya bukan saja sulit dipahami "orang luar", bahkan oleh pengurus NU sendiri.


Muktamar NU ke 33 tahun 2015 di Jombang  adalah salah satu contoh membaca kerumitan NU. Dinamika yang sangat tinggi hingga sambutan Gusmus, pejabat Rois 'Am saat itu, begitu melankolis dibaca media nasional dalam judul headlinenya sebagai "Muktamar gaduh". Sebuah kesimpulan simplistis, tidak benar benar menyentuh suasana kedalaman warga NU bahwa itulah cara "sambung rasa" sesama warga NU dalam proses menemukan format terbaik seleksi kepemimpinan di lingkungan jam iyah NU.


Muktamar NU  ke 26 tahun 1979 di Semarang adalah contoh.lain kerumitan membaca NU. Dr. KH. Idham Kholid yang diprediksi tidak akan terpilih lagi.menjadi ketua umum PBNU akibat kekecewaan mayoritas "kiai khos" terhadabnya dalam memimpn NU. Beliau menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di depan para muktamirin jelang pemilihan. Suasana menjadi hening dan dukungan berbalik  hingga  beliau terpilih kembali "mengalahkan" KH. Akhmad Syekhu, calon paling diunggulkan sebelumnya.


Itulah analisis Gusdur,. Wakil katib PBNU saat itu, tentang terpilihnya kembali Dr. KH. Idham Khalid di forum muktamar NU. tahun 1979  yang ditulisnya di di harian umum "Kompas" sehari pasca pelaksanaan Muktamar. Suatu kerumitan yang menurut Gusdur gagal dibaca oleh "orang luar" seperti Mitsuo Nakamura, peninjau dari unsur pengamat politik.yang hadir.di forum Muktamar NU ke 26 tersebut.


Pesan yang hendak disampaikan dari dua peristiwa Muktamar NU di atas adalah bahwa  konferwil NU Jabar tahun 2021 meskipun derajatnya setingkat di bawah Muktamar akan selalu menghadirkan sisi kerumitannya sendiri, antata lain pemilihan Rois Syuriah yang bertingkat dari suara cabang memilih  "ahlul halli wal aqdi (Ahwa) semacam "tim formatur" untuk  bermusyawarah  di mana hasilnya belum tentu linier mencerminkan suara cabang pemilihnya seperti yang terjadi dalam konferwil NU Jabar di Garut lima tahun silam.


Di level  pemilihan ketua tanfidiyah tentu jamak diketahui lebih berbobot politis. Para kandidat dengan "tim sukses" nya "adu klaim" mayoritas suara cabang "sudah diamankan". Penetrasi politik di luarnya tak jarang ikut menentukan konstelasi peta dukungan secara dinamis bahkan tidak tertutup kemungkinan muncul kandidat baru justru tak terduga dapat memenangkan kontestasi pemilihan ketua tanfidiyah sebagaimana kisah terpilihnya kembali Dr. Idham Kholid secara dramatis di ujung pemilihan di Muktamar NU ke 26 di atas tentu model dramatisasinya berbeda.


Itulah kerumitan NU sekaligus keunikan dan kedewasaannya dalam proses seleksi menentukan calon pemimpin di berbagai tingkat forum permusyawataan dan tidak tertutup kemungkinan akan terjadi dalam forum konferwil NU Jabar 2021. NU selalu hadir tak terduga dengan segala kerumitan yang sulit dirumuskan dalam satu tarikan definisi dan narasi yang bagi "orang luar" dibaca  "kegaduhan NU".


Maka, terima lah kelak siapa pun Rois Syuriah dan Ketua Tanfidiyah terpilith PWNU Jabar masa khidmat lima tahun ke depan baik terpilih sesuai peta prediksi sebelumnya maupun  "kejutan" akhir di ujung forum konferwil. 


Wassalam. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment