News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

HARI SANTRI DAN SARUNG TENUN KEBANGSAAN.

Kreator Jabar TV

HARI SANTRI DAN SARUNG TENUN KEBANGSAAN.

 


Oleh. : Adlan Daie

Analis politik/Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat.


PERINGATAN Hari Santri tanggal 22 Oktober tahun 2021 dengan tema besar "Santri Siaga Jiwa Raga" tidak sederhana hanya dimaknai secara artifisial lahiriyah dalam seremoni berpakaian sarung dan berpeci hitam. Kajian antropologis dan ilmu ilmu sosial politik di Indonesia mendefinisikan "santri" minimal dua kelompok sosial secara kategoris :

Pertama, Dr. Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya yang diadaptasi dari disertasi doktoralnya (1982) dengan judul "Tradisi Pesanren : Studi Pandangan Hidup Kiai", mendefinisikan santri sebagai salah satu elemen dari lima elemen dasar pesantren, yakni kiai, santri, pondok, masjid dan kitab kuning. Dalam pengertian ini santri adalah kelompok sosial yang (pernah) nyantri di pondok pesantren berbasis pengajaran kitab kuning. Bukan peserta didik yang sekedar di asrama kan atau "Boarding School" secara modern.

Kedua, Clifford Geezt dalam bukunya " The Religion of Java" (1956) mengkonstruksi tiga kelompok varian sosial pemilih, yakni priyayi, santri dan abangan. Santri disini adalah komunitas sosial penggerak dan pemilih loyal partai partai berbasis islam. Dari sini Prof. Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya "Runtuhnya Politik Santri" (1991) mendefinisikan "santri" tidak sekedar komunitas pesantren berbasis kitab kuning akan tetapi juga para aktivis para penggerak organisasi Islam secara modern.

Terlepas dari varian definisi santri secara dikhotomis di atas Hari Santri jelas diilhami spirit dan "ruh"  Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) 1945. Yakni  spirit keikhlasan, daya juang, kemandirian persatuan dan semangat cinta tanah air.  Dalam konteks Resolusi Jihad santri sejatinya adalah satu tarikan nafas spirit "Allah Akbar" dalam gelora cinta tanah air. Tak terpisahkan satu sama lain dalam satu integrasi "sarung tenun" kebangsaan.

Spirit santri di atas  akhir akhir ini mulai retak dalam bingkai sosial masyarakat dan sarung tenun kebangsaan  kita. Narasi "kadrun" dan "cebong" sisa sampah pertarungan politik yang tidak beradab telah menggiring seolah olah mengamalkan ajaran agama  dibingkai di ruang publik sebagai potensi radikalisme dan intoleransi. Sebaliknya ekspresi cinta tanah air dan atribut atribut kebangsaan di bingkai "bid ah, haram dan "thaghut". Media sosial mempertajam pertarungannya dengan kreativitas narasi dan serangan masing masing dalam bentuk sebaran hoax, ujaran kebencian dll.

Momentum memperingati Hari Santri kali ini harus kita maknai bersama untuk menguatkan "sarung tenun" kebangsaan kita bahwa spirit  pekik "Allahu Akbar" bukanlah vis a vis berhadapan dengan pekikan "NKRI harga mati" yang saling menghardik, merasa paling Islami atau paling "NKRI" yang saling meniadakan satu sama lain. Spirit hari santri meletakkan keduanya dalam satu tarikan nafas kebangsaan yang tak terpisahkan satu sama lain.

Ke sanalah spirit hari santri hendaknya kita hidupkan dalam bingkai kokoh untuk merekatkan sarung tenun kebangsaan yang kita warisi dari nilai nilai  kejuangan  "Resolusi Jihad NU 1945" yang mengilhami ditetapkannya "Hari Santri Nasional".

Selamat hari santri nasional tahun .2021.

"Santri Siaga Jiwa Raga".

Wassalam. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.