News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

GUS MUHAIMIN DAN SIMULASI MODERAT PILPRES 2024

GUS MUHAIMIN DAN SIMULASI MODERAT PILPRES 2024

 


Oleh. : H. Adlan Daie

Analis politik & sosial keagamaan.


Gagasan Gus Muhaimin bahwa pilpres 2024 minimal harus diikuti tiga pasangan capres cawapres (Sindonews, 22/4/2024 ) adalah simulasi moderat untuk menghindarkan kontestasi pilpres 2024 tidak bersifat pertarungan "head to head" yang membelah secara sosial dengan bingkai narasi ideologis dan ujaran kebencian yang keras. Insiden pengeroyokan Ade Armando (11/4/2024)  menurutnya sinyal kuat bahwa letupan api dalam sekam politik di Indonesia akibat residu kontestasi pilpres menyimpan "bom waktu" yang harus dihindari dalam kontestasi pilpres 2024.

"Ini terbukti api dalam sekam masih terjadi. Yang merasa paling islam tapi sebetulnya bodoh tentang islam. Yang merasa paling nasionalis tapi menyatakan nasionalismenya dengan menyakiti saudaranya", tutur Gus Muhaimin, ketua umum PKB menggambarkan potensi konfrontasi ideologis di atas.  (warta ekonomi 19/4/2024).

Pandangan Gus Muhaimin di atas sejalan dengan kekhawatiran Dr. Tamrin Amal.Tagola, guru besar sosiologi UI,. bahwa kontestasi pilpres 2024 jika berlangsung secara head to head (dua pasang calon) sulit tak terhindarkan benturan ideologis kelompok "nasionalis sekuler" dengan kecenderungan tafsir "sekularisasi pancasila" di satu pihak dan di pihak lain kelompk "nasionalis religius" dengan kecenderungan politik "radikalisme agama".

Sebuah pertarungan ideologis paling ekstrim dari residu polarisasi politik yang membelah tajam secara sosial sejak pilpres 2014 dan pilpres 2019, tak kunjung padam hingga saat ini.

Sayangnya meskipun dua lembaga survey  yakni lembaga "indikator politik" dan lembaca "SMRC"  pada bulan Pebruari dan Maret 2022 telah mencoba merekonstruksi dan memotret simulasi tiga pasangan calon dalam pilpres 2024  tetapi tidak memasukkan variabel nama Gus Muhaimin dalam list simulasi pasangan capres cawapres 2024. Simulasi pasangan  hanya berkutat pada paket Prabowo Puan, paket Anies AHY dan paket Ganjar Airlangga  dengan varian lain dalam survey  "Indikator politik" memasukkan nama Erick Thohir dalam sejumlah model simulasinya. Tidak ada satu nama pun secara "mandatory" mewakili representasi kultural politik santri kecuali nama yang dipaksakan dinaturalisasi seolah olah "santri".

Dalam pandangan penulis konstruksi simulasi tiga pasangan di atas bukan saja mengabaikan potensi Gus Muhaimin ketua umum PKB, pemilik modal 50% kursi DPR RI dari syarat ambang batas pencapresan tetapi juga abai terhadap basis representasi kultural santri, yakni satu dari varian penting dalam representasi politik di Indonesia sebagaimana kategori Clifford Geezt tentang varian politik Abangan, santri dan Priyayi. Desain simulasi survey di atas bersifat framing fragmentatif - jika tidak ingin dikatakan mengutip Pramoedia Ananta Toer, seorang sastrawan besar Indonesia, di desain "sudah tidak adil sejak dalam pikiran" dalam membaca dinamika dan varian demografis dalam konteks  pilpres 2024.

Di sinilah pentingnya menghadirkan Gus Muhaimin, ketua umum PKB - sekali lagi pemilik modal 50% kursi DPR RI dari ambang batas pencalonan presiden untuk mengambil inisiatif koalisi baru. Gus Muhaimin harus hadir dan dihadirkan karena posisi politiknya adalah simpul tengah dari tarik tambang dari dua kutub ideologis di atas yang makin mengeras tensi politiknya antara lain dapat dibaca dari background insiden pengeroyokan Ade Armando di atas demi kepentingan Indonesia yang kokoh, integratif dan bersatu lahir batin. 

Setidaknya dengan menghadirkan Gus Muhaimin dalam koalisi baru konfrontasi ideologis secara ekstrim dalam pilpres 2014 dapat dicegah  dan digeser menjadi kontestasi gagasan dan ide yang mencerahkan ruang publik untuk jalan bersama menuju "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".  Dalam konteks ini Gus Muhaimin dan PKB nya memiliki kapasitas memadai untuk membangun simulasi moderat pilpres 2024.

Wallahu a'lamu bish showab.(*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.