News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

GUS KAUSTAR DAN PENCAPRESAN GUS MUHAIMIN

GUS KAUSTAR DAN PENCAPRESAN GUS MUHAIMIN

 


Oleh.  : H. Adlan Daie

Penulis buku "Potret politik Gus Muhaimin". 


Gus Kaustar, putera KH. Nurul Huda Jazuli, kiai kharismatik pengasuh pesantren Ploso, Kediri (Jatim) sebagaimana lazimnya "dzurriyah" para kiai kharismatik NU, mengutip perspektif Mitsuo Nakamura, peneliti asing pertama yang menjadi peninjau "resmi" Muktamar NU ke 26 di Semarang tahun1979 selalu piawai, lentur dan taktis dalam merespons dinamika politik internal maupun eksternal NU.



Kelenturan tradisi tafsir pesantren NU atas diktum diktum "ushul fiqih" atau "legal maxim" dalam istilah Gusdur di sejumlah tulisannya di  Jurnal "Prisma" mewarnai langgam politik Gerakan Nahdliyin Bersatu (GNB) yang diinisiasi Gus Kaustar bersama Gus Salam (Denanyar Jombang) dan "gus gus" lain di Jawa Timur .


Gestur Gerakan Nahdiryin Bersatu (GNB) di atas tidak dikonstruksi  Gus Kaustar dkk bersifat "vis a vis" dan berhadap hadapan saat PBNU ditengarai mengunci rapat pintu struktural NU dari masuknya anasir kepentingan politik PKB dan pencapresan Gus Muhaimin melainkan melingkar, lentur dan bersifat kultural.



KH. Anis Maftukhin, pengasuh pondok pesantren Wali, Salatiga dalam tulisannya berjudul "Gerakan Nahdliyin Bersatu : Nalar dan Naluri Politik Gus Kaustar" (Tribunnews, 7/3/2022 ) membaca gerakan Gus Kaustar dkk diatas  secara substantif bahwa konstestasi pilpres 2024 dalam "nalar dan naluri" politik Gus Kaustar adalah momentum bagi nahdiyin bersatu mengusung kader NU sendiri, yakni Gus Muhainin -  bukan kader NU hasil "naturalisasi" secara instan.



Dalam dinamika peta politik nasional hari ini spirit memenangkan PKB model KH. Imam.Jazuli. (Cirebon) dan semangat pencapresan Gus Muhaimin model Gus Kaustar adalah politik jalan moderat untuk menghindari pertarungan keras kutub politik "sekularisasi Pancasila" versus gerakan "mensyari'atkan Pancasila " di mana dalam perspektif Dr. Tamrin Amal Tangola, guru besar sosiologi UI pertarungan "dua kutub" di atas potensial terjadi dalam pilpres 2024 dengan residu pembelahan ekstrim dan merusak sendi sendi harnoni sosial.



Dengan kata lain, dalam konstruksi KH. Imam Jazuli sprit memenangkan PKB dan pencapresan Gus Muhaimiin bukan sekedar untuk kepentingan elektoral PKB dan Gus Muhaimin, lebih dari itu dalam.konteks memenangkan politik "Ahlus sunnah wal.jamaah", yakni dalam narasi Gus Muhaimin sendiri dalam tulisannya di media "Sindo" Offline disebut "politik jalan tengah Islam Rahmatan lil alamin". Tentu tidak mudah memang mengambil "jalan tengah" di tengah polarasisi ekstrim tapi inilah panggilan sejarah kebangsaan saat ini yang harus dihadapi.



Dalam replika.sejarah perjalanan NU fenomena munculnya kiai kiai muda NU seperti Gus Kaustar (Ploso), Gus Salam (Denanyar) KH. Imam Jazuli (Cirebon) dkk di atas adalah fenomena alamiyah dan selalu muncul sebagaimana dulu kiai kiai muda generasi Gusdur,.Fahmi Saefudin dan Slamet Effendi Yusuf muncul.dengan gerakan intelektual dan "civil society"  secara kultural untuk "power balancing"  atas kecenderungan "full politics" PBNU di era KH. Idham Khalid.



Karena itu, dalam konteks itulah sprit kiai kiai muda NU di atas harus dibaca dan diletakkan dalam ikhtiar kolektif memenangkan PKB dan pencapresan Gus Muhaimin pada pemilu.2024. Mari kita tunggu pengarus utamaan gerakan kultural nahdlitin bersatu ini untuk penguatan posisi politik PKB demi khidmat politik terhadap NU dan Indonesia Raya yang "harmoni" lahir batin.



Tabik !!!

Wassalam.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.