News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

PKB DAN PILIHAN POLITIK WARGA NU INDRAMAYU

PKB DAN PILIHAN POLITIK WARGA NU INDRAMAYU

 


Oleh. : H. Adlan Daie

Pemerhati politik dan sosial keagamaan.


PKB dulu (1998) sengaja didirikan secara "segmented" untuk wadah aspirasi politik "warga NU". Data survey "IndexStart" (2020) warga NU Indramayu kategori "angggota aktif" sebesar 9,1% dengan "simpatisan" atau "followers" sebesar 26,2%. Dalam pengertian "penganut" amaliyah keagamaan seperti "tahlil" warga NU Indramayu sebesar 58% dan menurut penulis bisa mencapai lebih 75% jika diukur dari "ketaatan" umat islam Indramayu terhadap hasil rukyat hilal NU dalam penentuan 1 Romadhan/ Syawal.

Raihan elektoral PKB Indramayu, satu satunya partai yang didirikan NU tertinggi 15, 2 % (pileg 1999). Pada pileg terakhir (2019) PKB Indramayu meraih sebesar 11, 8% atau naik 0,6% (kurang dari 1%)  dari raihan PKB pada pileg 2014. Elektoral PKB Indramayu - juga nasional -  fluktuasi naik turunnya secara elektoral di kisaran margin angka 2',5% saat PKB dalam posisi "normal", tidak dilanda konflik internal yang  akut dan berefect ke struktural partai di daerah seperti pada  pileg 2009.

Distingsi atau jarak prosentase jumlah warga NU dan pemilih PKB di Indramayu di atas bukanlah fenomena "aneh" dan "anomali". Hal yang sama juga terjadi di level nasional di mana jumlah warga NU sebesar 51% (survey LSI dan Alvara Research, 2018) dan pemilih PKB secara nasional tertinggi 13,2% (pileg 1999) dan pada pileg 2019 raihan PKB sebesar 9,8%.  Demikian pula fakta yang terjadi di Jawa Barat warga NU 52% dan pemilih PKB sebesar 9, 8%. Bahkan di Jawa Timur, basis terkuat NU (78%), pemilih PKB sebesar 23%.

Hasil survey Litbang "Kompas" (Pebruari 2022) dan survey "SMRC" (Agustus 2022) memberikan sedikit "kisi kisi"  bahwa pemilih PKB atau publik yang menjadikan PKB sebagai identitas pilihan politiknya (disebut "party id") adalah varian "warga NU" dalam pengertian jaringan sosial pesantren NU. Pemilih ini disebut Cliiford Gezt (1956) adalah  rumpun pemilih "santri" yang dikonstruksi Gus Muhaimin (ketua umum PKB ) berdasarkan temuan data survey Litbang "Komoas" sebagai pemilih "paling setia" pilihan politiknya terhadap.PKB.

Basis sosial pemilih "santri" di atas dulu  menjadi basis pemilih setia partai NU (pemilu 1955 & 1971) sebesar 18%, bertranformasi menjadi basis sosial pemilih PKB di era reformasi dengan capaian elektoral tertinggi 13,2% (1999), "turun" dibanding dua kali pemilu raihan partai NU di atas. Penyebab "turunnya" dalam riset politik Dr. Riswanda Imawan antara lain "effect" dari politik rejim orde baru yang berhasil "melunakkan" politik "aliran" sehingga basis sosial santri lebih bersifat "cair".dan "longgar".

Dalam konteks Indramayu potensi  pemilih "santri"  adalah "simpatisan" NU sebesar 26, 1% berdasar hasil survey "Indexstart" di atas, bertumpu di basis jaringan sosial pesantren NU dan komunitas sosial "turunannya" seperti sekolah NU, majelis taklim dan penyuluh agama.  Ini tentu berbeda dengan varian "warga NU"  karena tradisi "tahlilan" tetapi non jaringan sosial pesantren NU. Basis sosial terakhir ini adalah pemilih nasionalis (dulu oleh Cliffod Gezt disebut pemilih "abangan"), sulit diupgrading menjadi pemilih PKB selama lima kali pemilu kecuali "sangat sedikit" hasilnya.

PKB Indramayu dibawah Amroni S.ip, politisi muda NU bergestur "stylist" penting menggarap "simpatisan" NU indramayu sebesar 26,1% di atas. Relasi kedekatan ideologis  tentu lebih "connected" menariknya menuju target 12 kursi PKB di pileg 2024 melalui kerja elektoral PKB berbasis "rute jalan" survey dalam konstruksi dapil dan sesekali memainkan "effect kejut" politik dalam rangka memproteksi basis sosial santri ini dari penetrasi partai Golkar, PDIP dan Gerindra dimana ketiga partai ini menurut data survey "SMRC" makin meluas diterima basis santri.

Konstruksi strategi  politik PKB harus diletakkan bahwa kerja kompetisi caleg bersifat komplementer terhadap kerja elektoral partai. Data Litbang "Kompas" (Pebruari dan Juni 2022) memberi gambaran bahwa kontribusi elektoral partai (58%) lebih "dominan" dibanding insentif caleg (21%). Artinya, elektoral caleg akan berdampak signifikan jika mesin partai bergerak intensif. Inilah bedanya pileg (kontestasi partai)  dengan kontestasi pilihan "kuwu" yang hanya bersifat "personal", lokal dan tidak terkait identitas partai dengan "ideologi" bawaannya.

Selamat berjuang dan "iuran" keringat untuk berkontribusi terhadap elektoral PKB 2024.

Wassalam. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.