News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

SEKBER KOALISI GERINDRA - PKB DAN IJTIHAD POLITIK 2024

SEKBER KOALISI GERINDRA - PKB DAN IJTIHAD POLITIK 2024

 


Oleh. : H. Adlan Daie

Pemerhati politik dan sosial keagamaan


Peresmian Sekretariat Bersama (Sekber) partai Gerindra dan PKB secara langsung oleh ketua umum Gerindra Prabowo Subianto bersama ketua umum PKB H. Abdul Muhaimin Iskandar (Cak imin) di kawasan Menteng Jakarta (Senin, 23/1/2023) telah menandai langkah maju dalam "ijtihad politik" mematangkan koalisi menuju pilpres 2024.

Sayangnya momentum peresmian "sekber" di atas agak "hambar" karena tidak diikuti deklarasi Prabowo dan Cak Imin sebagai paket pasangan capres cawapre. Ini  khas "politik" ala Indonesia senang berputar putar "membosankan" dan cenderung merumit rumitkan masalah politik yang relatif sederhana.

Tapi terlepas dari persoalan kerumitan dinamika internalnya koalisi Gerindra dan PKB dengan konstruksi mengusung pasangan capres cawapres Prabowo dan Cak Imin adalah sebuah ijtihad politik sangat "reasonable" dan menjanjikan dalam peta politik nasional dibaca minimal dari tiga perspektif, yaitu :

Pertama, secara yuridis koalisi dua partai ini memenuhi syarat ambang batas pencalonan pasangan capres dan cawapres dalam pilpres 2024, saling membutuhkan, saling melengkapi satu sama lain dan (seharusnya) tidak ada dominasi satu sama lain yang  "mendikte" kepentingan kecuali kesamaan platform perjuangan dan rancang bangun peta jalan pemenangan.

Kedua, koalisi ini adalah koalisi moderat dalam imajinasi pilpres 2024,  sebuah bandul politik tengah untuk menghindarkan kemungkinan polarisasi "politik identitas" dan "tukar tambah" ujaran kebencian dengan diksi diksi agama yang membelah ekstrim secara sosial seperti pernah terjadi dalam kontestasi pilpres 2014 dan 2019 dengan sisa "luka luka batin" yang tak terperikan hingga hari ini.

Ketiga, dari sisi demografi pemilih Prabowo mewakli rumpun "nasionalis" dan Cak Imin mewakili representasi rumpun pemilih "santri" atau jaringan sosial pesantren NU, sebuah perpaduan varian mayoritas pemilih di Indonesia dan representasi dari "jangkar politik" kebangsaan dalam integrasi empat pilar kebangsaan yang kokoh dan teruji, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam konstruksi tiga variabel di atas seharusnya tidak perlu ragu mendeklarasikan pasangan Prabowo dan Cak Imin dalam  konstruksi koialisi Gerindra dan PKB. Ijtihad politik secara  "meaning full" jika disandarkan pada keyakinan dan kehendak politik bersama akan memudahkan langkah memenangkan kontestasi pilpres 2024 dalam.kerangka peneguhan politik kebangsaan dan maslahat publik.

Persoalan lain lain misalnya Prabowo  menghadapi kemungkinan pergeseran pemilihnya dan Cak Imin dalam relasi "kurang kondusif" dengan PBNU bahkan sebagian publik membaca PBNU cenderung hendak mempersempit ruang politik PKB dan Cak Imin dapat "disubsidi" secara elektoral dengan penguatan "relawan" non struktural partai.  Penguatan anasir relawan ini relatif lemah dalam konstruksi koalisi Gerindra dan PKB saat ini.

Tidak ada hal yang tidak mungkin dalam dinamika politik, demikian diktum politik Otto Van Bismoch "politics is the art off the possible", tidak perlu tersandra dalam peta data survey yang selama ini melemahkan koalisi ini di ruang publik.

Sejauh ijtihad politik disandarkan pada keyakinan dan kehendak bersama dengan kerja kerja politik struktural partai dan mampu menggairahkan  partisipasi para relawan semua dapat dilalui dan akan dituntun jalan takdirnya.

Selamat berjuang !!!

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.